terhasut

12 07 2009

Terhasut “Maryamah Karpov”

Pejaten-Tugu Pancoran, akhir November 2008. Hujan memukul jendela, menerjang daratan dan menyulut kemacetan hebat. Sudah pasti aku terlambat ke tempat acara. Tapi, sejurus kemudian seseorang di sebelahku membuka bukunya. Gambar biola yang didekap mesra pemainnya menyelinap. Baris-baris kalimat terlintas di depan mataku, “Maryamah Karpov”—Mimpi-mimpi Lintang. Aha…buku ini adalah sekuel yang paling ditunggu para pecinta Laskar Pelangi yang telah difilmkan pula. Provokasikah?

Kali ini, ia tak lagi bercerita soal piawainya Andrea Hirata membingkai cerita, menyusun kata dan melempar mimpi kepada pembaca. Lebih konkret dari itu, ia membacakannya untukku. Lebih setengah jam Pejaten-Tugu Pancoran, 20 halaman telah diperdengarkannya padaku. Aku terhasut…Ya oleh kepintaran seorang Melayu yang tengah bergelut memperoleh master di Universitas Sorbonne, Prancis.

Seorang calon grand master asal Georgia, Ninochka Stronovsky mati kutu di depan para doktor dan profesor yang menguji tesisnya. Stronovsky yang anak kandung peradaban Eropa gagal, bagaimana pula dengan anak Melayu?

Sungguh keliru sembilan puluh sembilan meremehkan anak Nusantara. Andrea membuktikan itu, saat ia bisa meyakinkan Dr Antonia LaPlagia, doktor paling sinis di kampusnya, bahwa logika matematika yang ia susun dalam tesisnya dapat diterima. Anak Melayu ini, telah membuat perhitungan dengan tuntas bahwa nasib manusia—dengan latar belakang apa pun, termasuk kuli timah di Belitong—dapat diubah dengan kerja keras. Inilah suku kata pertama yang mengarahkan banyak hal yang terjadi pada Ikal—tokoh utama—hingga kalimat terakhir “Maryamah Karpov”.

Hasutan yang berhasil…karena selepas itu, aku terpompa untuk menyelesaikan “Maryamah Karpov” hingga halaman terakhir. Renyah seperti kacang goreng, sang penulis mendiskripsikan sederet warga Belitong di kampungnya. Penuh detail, menyibak dan yang pasti menawarkan “kejutan”. Simak Bang Zaitun—sopir angkutan, bekas pemimpin orkes Melayu. Sungguh santai tokoh ini menjalani hidup. Pernah gagal, namun seni memberi padanya ilmu untuk menyiasati hidup. Dengan cara itu, penumpang yang naik bus miliknya dapat mereguk “madu” dari titik nol sejak orang itu menginjakkan kaki di Belitong. Beragam watak manusia disingkap penulis. Kita pun menyaksikan spektrum pelangi kepribadian manusia.

Kian terhasut karena aku menikmati fiksi dalam sebagian besar halaman. Njoo Xian Ling, ini kata lain dari cinta bagi Ikal, yang menggerakkan fiksi Andrea tersusun rapi. Etos seperti apa yang bisa menjelaskan master ekonomi komunikasi bisa merancang perahu yang memerlukan perangkat fisika dan konstruksi? Energi apa pula yang bisa menggerakkan seorang jadi kuli timah, menebang pohon dan kerja serabutan lainnya demi mengumpulkan sen demi sen rupiah? Atau keberanian jenis apa yang membikin seseorang rela menyeberangi lautan demi mengetahui nasib seseorang yang belum pasti masih hidup atau tidak?

Demi perahu Ikal rela kerja keras. Bahkan sudi menempuh sedikit “petualangan mistis” yang jadi kegemaran Mahar—sahabatnya yang putar haluan menjadi dukun amatir. Ikal juga dibantu sang jenius “Issac Newton” yang menghuni pikiran cerdas Lintang. Maka tersusunlah, perahu asteroid yang tersusun dari papan lambung perahu milik perompak abad 19. Lintang lah yang menentukan ukuran perahu itu dari panjang, bobot, jarak lengkung lambung, linggi, tinggi lambung hingga motor dobel 40 tenaga kuda. Pokok kata, inilah “Mimpi-mimpi Lintang” yang lantas disematkan pada perahu tersebut.

Ya…perahu inilah yang membawa Ikal ke pusat mimpinya yang lain, cinta. Ikal pun mendaki, menerabas setiap halangan, bahkan rela menukar nyawa menembus ganasnya ombak yang membelah Belitong dan Batuan, pulau luar dekat Singapura. Seluruhnya dilakukan asal bertemu A Ling…Pendakian Ikal ini memang membawa hasil. Pujaannya selamat dan bisa dibawa pulang. Namun, penulis menyudahi petualangan Ikal yang ksatria dan mendebarkan itu dengan klise. Sang ayah tak merestui Ikal meminang A Ling. Pembaca diminta menebak sendiri, apa sesungguhnya alasan ayah Ikal menolak. Tapi diatas segalanya, Ikal masih memburu, “…aku tak kan menyerah pada apapun untuknya…”

Advertisement

Actions

Information

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Follow

Get every new post delivered to your Inbox.